Hari Epilepsi Sedunia, Dokter Inge : Epilepsi Bukan Penyakit Kutukan & Tidak Menular

0
103

Kab. Sukabumi (Obormerah.com)- Dalam rangka memperingati hari Epilepsi Sedunia Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi menggelar silaturahmi dan sharing seputar penyakit Epilepsi di Aula Rapat RSUD Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Senin (12/08/2019).

Dokter Spesialis Syaraf RSUD Palabuhanratu, Dr. Inge Anggelia Sigit Sp. S selaku pemateri memberikan pemahaman tentang penyakit Epilepsi kepada sejumlah petugas Puskesmas di Wilayah 4 Palabuhanratu, Staf Medis RSUD Palabuhanratu bahkan petugas medis dari Bayah-Banten.

Menurut Inge, Epilepsi atau yang lebih di kenal Ayan atau dalam bentuk kejang-kejang bukan penyakit menular namun penyakit yang diakibatkan dari cetusan listrik-listrik di otak yang berlebihan.

“Bisa saja Epilepsi ini terjadi pada saat orang sedang terdiam bengong. Penyakit Epilepsi bisa di buktikan dan memang harus di buktikan dengan pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) dengan analisa ulang kejangnya harus lebih dari satu hari,” jelasnya.

Lebih lanjut, Inge mengatakan, pasien yang terkena Epilepsi ini perlu tindak lanjut dengan fisik oleh dokter spesialis syaraf dan EEG tersebut untuk membuktikan apakah pasien tersebut benar tidaknya terkena penyakit epilepsi, seberapa berat penyakitnya dan itu bisa di tangani oleh Dokter Spesialis Syaraf.

“Jenis epilepsi ini ada dua, umum dan epilepsi vokal. Namun ada juga yang tidak terklasifikasi. Saya sering menemukan di Kabupaten Sukabumi jenis epilepsi umum. Dari pengamalaman yang selalu ditangani itu rata-rata di usia produktif remaja,” terangnya.

Penyakit Epilepsi, tambahnya, hampir 50 persen tidak pernah diketahui penyebabnya, adapun dari genetik kurang dari 10 persen dan dari riwayat kejangpun bisa saja ada dan terjadi sehingga menginjak usia dewasa muda atau produktif itu kemudian terjadi kembali.

“Kalaupun penyakit epilepsi atau Ayan itu turunan merupakan mitos, anggapan masyarakat epilepsi itu bagian dari guna-guna atau misalnya bagian dari kutukan juga itu tidak benar. Tingkat kesembuhannya Insya Allah baik asal pengobatan teratur, perlu dukungan dari pihak keluarga dalam minum obat. Ya minimal 3 sampai 5 tahun penyakit ini bisa sembuh asal teratur meminum obat,” paparnya.

Tak hanya itu, Inge juga menjelaskan untuk mencegah terjadinya penyakit epilepsi bagi pasien, hindari beberapa makanan yang bisa mencetuskan penyakit epilepsi itu sendiri seperti hindari minuman alkohol, kafein, makanan yang mengandung coklat, pancaran sinar yang berlebihan seperti pancaran sinar komputer dan matahari.

“Jangan kaget juga dalam dua sampai 5 tahun bisa kembali terjadi, karena itu tadi, pasien harus teratur dalam meminum obat,” tandasnya.

Sementara, Humas RSUD Palabuhanratu, Bili Agustian mengungkapkan pihaknya baru bisa melaksanakan kegiatannya saat ini karena terhalang banyak kegiatan.

“Sebetulnya peringatan Hari Epilepsi Sedunia jatuh pada tanggal 26 Maret lalu. Kemarin banyak agenda jadi baru bisa terlaksana hari ini,” bebernya.

Walaupun terlambat, lanjutnya, kegiatan sosialisasi tersebut masih dalam rangka memperingati Hari Epilepsi Sedunia.

“Alhamdulillah peserta banyak, kurang lebih 100 orang. Pasien maupun keluarga pasien juga dihadirkan agar mereka lebih mengerti dan paham tentang penyakit epilepsi ini,” ujarnya.

Karena ini pertama kali dilaksanakan di RSUD Palabuhanratu, Bili berharap, untuk kedepannya mudah-mudahan lebih banyak lagi yang mengikuti baik petugas kesehatan, pasien maupun keluarga pasien. (Hery)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here